Bangkai kecoa tidak najis sebagaimana lalat, lebah, dan semisalnya. Karena termasuk hewan yang tak memiliki darah mengalir. Hanya saja termasuk hewan kotor dan menjijikkan sehingga haram untuk dimakan.
Tarjih. InsyaaAllah pendapat kedua ini yang lebih kuat, bahwa bangkai serangga tidak najis. Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
1. Najis yang dimaafkan jika jatuh ke air (yang sedikit) tapi tidak jika terkena baju. Seperti : Lubang dubur atau saluran keluar burung (dari sisa kotorannya) yang nyemplung ke air (sedikit) tapi tidak mengubah sifat air. Bangkai hewan yang tidak punya darah yang mengalir (cicak, nyamuk, kecoa, semut dll). 2.
As-Suyuthi rahimahullah berkata, "Kaidah; Al-Qomuli dalam kitab Al-Jawahir berkata, "Ketika najis bertemu dengan sesuatu yang suci dan keduanya kering, maka itu tidak membuatnya najis." (Al-Asybah wan Nazoir, 1/432). Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah berkata, "Sesuatu yang najis namun kering tidak mempengaruhi tangan dan baju yang kering.
Menyiapkan lingkungan yang sesuai akan membantu dalam proses budidaya. Berikut ini berbagai cara budidaya kecoa batu yang penting untuk diketahui: 1. Menyediakan Kandang yang Cocok. Kandang untuk kecoa batu harus cukup luas dan memiliki ventilasi yang baik. Pastikan kandang memiliki tempat persembunyian yang cukup untuk kecoa batu merasa aman.
Kecoa itu memang tidak najis kecuali kalau terkena najis dan masih ada najisnya. Tapi kalau sudah tidak ada najisnya, atau memang dari awal tidak terlihat membawa di tubuhnya (seperti kotoran manusia atau basahan kencing misalnya), maka ia adalah bersih.
.
kecoa najis atau tidak